Apakah pernikahannya sah yang menikah karena sudah hamil karena melakukan zina, bagaimana hukum anaknya ?

Sudah menjadi fenomena dimasyarakat sekarang ini banyak terjadi hubungan diluar nikah dan menyebabkan wanita hamil, itu semua disebabkan karena pergaulan bebas dianatara anak muda sekarang ini, yang para orangtuanya tidak mempedulikan anak nya jatuh dalam perbuatan tersebut. Mereka para orangtua sekarang banyak yang bangga anaknya pacaran dan meresa sedih jika anaknya tidak punya pacar. Ini adalah sebuah kekeliruan besar membiarkan anaknya jatuh dalam perbuatan zina sedangkan Allah telah berfirman :

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Arti: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra Ayat 32)

Dan ketika anaknya hamil lalu mereka merasa malu karena anaknya hamil tanpa seorang suami lalu menikahkan anaknya dengan pacarnya tersebut. Seperti inilah yang banyak terjadi dimasyarakat kita, lalu bagaimana hukum hal itu apakah pernikahannya sah dan boleh ?

Maka syekh Sulaiman arruhaily pernah ditanya tenatang masalah ini dan beliau menjawab,

Penanya :

Seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita dan dari perbuatan tersebut wanita hamil, lalu laki-laki tadi menikahinya, maka apa hukum pernikahan dan bagaimana hukum anak tersebut ?

Jawaban :

Seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita dan hamil dari perbuatan tersebut, lalu dia menikahinya, lalu apa hukum pernikahan tersebut ?, menurut pendapat jumhur ulama dan saya berpendapat pendapat jumhur ini benar. Bahwasanya nikah tersebut tidak boleh dan tidak sah. Karena berdasarkan dalil syar’I tidak sah nikah wanita yang sedang hamil.

Dan wanita ini sedang hamil, maka tidak sah nikah dengannya, namun jiika dia ingin menikahi wanita tersebut maka dia biarkan dulu sampai wanita tersebut melahirkan kemudian menikah dengannya setelah itu.

Walaupun ada dari kalangan ahli fikih yang berpendapat bahwa jika dia yakin bahwa tidak ada benih (laki-laki lain) pada perbuatan tersebut maksudnya dia yakin bahwa anaknya yang sedang dalam perut wanita tersebut adalah anaknya. Bahwasanya nikah ini sah dan anak itu dinasabkan kepadanya. akan tetapi pendapat yang benar berdasarkan kaidah syari bahwasanya pernikahan seperti ini tidak sah dan tidak boleh dan anak hasil zina tersebut tidak boleh dianasabkan kepada laki-laki tersebut. Karena Nabi telah menghukumi secara jelas, sebagaimana dalam hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ

Anak itu disandarkan pada pemilik ranjang, sedangkan yang berzina hanya mendapatkan batu saja (artinya: tidak mendapatkan hak apa-apa dari anak).” (HR. Bukhari, no. 6749 dan Muslim, no. 1457)

Makna hadis ini adalah anak yang dinasabkan kepada ayahnya itu harus didapatkan setelah menikah. Inilah makna Alfiras , sedangkan yang berzina hanya mendapatkan batu saja (artinya: tidak mendapatkan hak apa-apa dari anak), dan anak tidak dinasabkan kepadanya, tidak boleh anak dinasabkan karena perbuatan zina.

Maka kita katakan bahwasanya nikah dengan wanita itu dan dia hamil tidak sah dan tidak boleh dan anak itu tidak boleh dinasabkan kepada pezina (ayah biologisnya). Dan jika dia ingin menikahi wanita tersebut maka nikahkan setelah melahirkan anak tersebut. (diterjemahkan dari potongan kajian beliau)

Maka konsekkuensinya jika mereka menikah dalam kondisi terbebut maka mereka pernikahannya tidak sah dan mereka akan berzina selama pernikahan tersebut berlangsung karna pernikahannya tidak sah. Semoga kita dan keluarga kita terhindar dari perbuatan zina

Disusun oleh : Abu Azzam Alminagi

Jum’at, 13 Syawal 1441 Hijriyah

Tinggalkan Balasan