SAY NO TO TATHOYYUR!

Sobat, Pernahkah Anda mendengar mitos yang beredar di masyarakat yang menganggap bahwa angka 13 merupakan angka sial? Atau dari mereka ada yang meyakini bahwa terdapat bulan tertentu atau hari-hari tertentu yang dikeramatkan sehingga tidak boleh mengadakan hajatan, walimahan atau acara besar lainnya?

Sahabatku yang berbahagia, beranggapan sial atau merasa sial terhadap sesuatu yang dilihat atau didengar merupakan perihal yang dilarang oleh agama kita.

Pembahasan beranggapan sial ini dalam bahasan akidah diistilahkan dengan thiyaroh atau tathoyyur. Menurut bahasa merupakan bentuk masdar dari kata تَطَيَّرَ dan asalnya diambil dari kata الطَيْرُ (burung), karena orang-orang Arab akan merasa pesimis atau optimis dengan burung-burung dengan cara yang sangat dikenal di kalangan mereka, yaitu: dengan menerbangkan burung-burung. Lalu dilihat apakah lantas burung-burung itu terbang ke arah kanan atau ke arah kiri dan lain sebagainya. Jika burung tersebut bergerak ke arah kanan, maka itu tanda perjalanannya akan baik. Jika burung tersebut bergerak ke arah kiri, maka itu pertanda bahwa mereka harus mengurungkan niat mereka untuk melakukan safar (perjalanan) karena khawatir akan terjadi musibah ketika di jalan nantinya. Sedangkan menurut istilah ialah perasaan pesimis karena sesuatu yang dilihat atau sesuatu yang didengar.

Nah sahabatku, Beranggapan sial atau thiyaroh ternyata sudah ada di masa sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Fir’aun beranggapan sial pada Musa u dan pengikutnya. Ketika datang bencana, mereka katakan itu gara-gara Musa. Namun ketika datang berbagai kebaikan, mereka katakan bahwa hal tersebut karena usaha kami sendiri, tanpa menyebut kenikmatan tersebut berasal dari Allah I. Allah I berfirman:
“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al-A’raaf: 131)

Syaikh Abdurrahman bin Hasan (penulis kitab Fathul Majiid) berkata, “Ibnu Abbas t berkata, ‘kesialan mereka, yaitu ‘Apa yang ditakdirkan kepada mereka.’ Dalam suatu riwayat, ‘Kesialan mereka adalah di sisi Allah dan dari-Nya.’’ Maksudnya kesialan mereka adalah dari Allah disebabkan kekafiran dan keingkaran mereka terhadap ayat-Nya dan Rasul-rasul-Nya. Nabi r bersabda,لاعَدْوَى ، وَلاَطِيَرَةَ ، وَلاَهَامَةَ ، وَلاَصَفَر  
“Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan Thiyaroh (pesimis dengan burung), tidak dibenarkan hamah (pesimis dengan burung yang lain), juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan shafar” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam Hadits ini disebutkan tidak bolehnya beranggapan sial secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu seperti pada bulan shafar ataupun bulan lainnya.

 Sahabatku, ketahuilah bahwa sesungguhnya tathoyyur adalah perbuatan yang dapat merusak tauhid karena ia termasuk kesyirikan. Terdapat riwayat dari Ibnu Mas’ud t secara marfu’:
“Tathoyyur adalah kesyirikan, tathoyyur adalah kesyirikan, dan tidak ada seorang pun dari kita kecuali (telah terjadi dalam dirinya sesuatu dari hal itu), akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi, ia menyatakan shahih dan menjadikan perkataan terakhir adalah dari perkataan Ibnu Mas’ud).
 
Syaikh Abdurrahman bin Hasan menjelaskan bahwa thiyarah termasuk suatu perbuatan syirik yang menghalangi kesempurnaan tauhid karena ia berasal dari godaan rasa takut dan bisikan yang berasal dari setan.
Sahabatku, Menurut Syaikh al-Utsaimin, terdapat dua aspek bahwa tathoyyur dapat merusak tauhid;

1. Orang yang melakukan tathoyyur memutuskan tawakalnya kepada Allah dan akhirnya bersandar kepada selain Allah.

2. Orang yang melakukan tathoyyur bergantung kepada perkara yang tidak ada kenyataannya. Bahkan semuanya hanya dugaan dan khayalan. Hubungan apa yang ada antara perkara ini, dan antara apa yang didapat dengannya. Tidak diragukan bahwa semua ini merusak tauhid, karena tauhid adalah ibadah dan permohonan pertolongan. Allah I berfirman,

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”

Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Penyembuh dari beranggapan sial adalah dengan bertawakal pada Allah. Kemudian meninggalkan anggapan sial dan tidak memiliki keraguan lagi dalam hati.”

Hendaknya kita tidak menuduh kesialan itu pada tanggal, hari, angka, bulan, tempat atau nama anak. Mari kita buang jauh-jauh anggapan sial dan ganti dengan bertawakkal kepada Allah I. Ketika kita mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, maka ucapkanlah:

اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ
“Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali Engkau, serta tidak ada daya dan upaya selain di sisi Engkau.” Waallahu Ta’ala A’lam.

Dikutip dari:
al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid. Syaikh Muhammad Shalih bin Al-Utsaimin, dan berbagai sumber lainnya.

Tinggalkan Balasan